Selasa, 20 Desember 2011

ABSES RETROFARING


Abses Retrofaring biasanya ditemukan pada anak yang berusia dibawah 5 tahun. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfa masing-masing 2-5 buah pada sisi kanan dan kiri. Kelenjar ini menampung aliran limfa dari hidung, sinus paranasal, nasofaring, faring, tuba Eustachius dan telinga tengah. Pada usia di atas 6 tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi.
Gejala Klinis:
1. Nyeri tenggorokan
2. Nyeri saat menelan
3. Demam
4. Nyeri leher
5. Leher kaku
6. Sukar bernafas

abses peritonsil


Abses Peritonsil


deskripsi
Penyakit ini terjadi akibat kuman aerob atau anerob yang menyerang ruang peritonsil. Akibatnya, rongga mulut bagian belakang bernanah. Komplikasi dari penyakit ini berupa dehidrasi, pendarahan, aspirasi paru, dan lain-lain. 

Gejala
Terdapat gejala dan tanda tonsilitis akut, demam tinggi, otalgia, nyeri saat menelan, nyeri tenggorok, muntah, mulut berbau, suara sengau, kadang-kadang sulit membuka mulut. 

Pengobatan
Perawatan untuk stadium awal dengan meberikan antibiotik dosis tinggi. Jika amandel bernanah maka segera dilakukan pembersihan. Penderita juga disarankan untuk berkumur dengan atiseptik untuk mencegah kum .

Minggu, 18 Desember 2011

PTOSIS


Kelopak mata yang turun atau menggantung serta tidak dapat membuka dengan sempurna, secara medis disebut dengan Ptosis. Pada kondisi ini kelopak mata tidak dapat membuka dengan optimal saat memandang lurus ke depan dan ukuran kelopak terlihat lebih kecil dibandingkan mata normal.
Secara garis besar ptosis dibagi menjadi 2 jenis yaitu: Congenital Ptosis dan Acquired Ptosis. Congenital Ptosis merupakan ptosis bawaan sejak lahir dan biasanya hanya mengenai satu mata. Ini terjadi karena kesalahan pembentukan otot kelopak mata serta kerusakan saraf akibat lemahnya otot rektus superior.
Sedangkan Acquired Ptosis, biasanya disebabkan akibat bertambah panjangnya otot pengangkat kelopak mata, pertambahan usia, trauma kecelakaan, stroke, tumor otak, diabetes, serta kanker yang mempengaruhi saraf atau respon otot.
Gejala ptosis dapat dikenali lewat beberapa hal berikut:
•    Kelopak mata atas menutup secara tidak normal
•    Peningkatan produksi air mata
•    Iritasi karena kornea terus tertekan kelopak mata
•    Kesulitan membuka kelopak mata secara normal
Penanganan ptosis dilakukan dengan cara mengevaluasi penderita setiap 3 atau 4 bulan dan pada ptosis akut diperlukan operasi untuk memperkuat otot levator palpebra (otot kelopak mata atas). Operasi dapat dilakukan pada berbagai usia, tergantung dari keparahan penyakitnya. (TR)

vitreous humour



Dalam kita mata, ada bagian transparan yang sangat khusus, yang disebut Vitreous humor yang menentukan bentuk Mata kita. Bahan utama adalah cairan vitreous humor.

Dimana lokasi spesifik dari zat ini? Itu terletak antara lensa danretina kami. Untuk batas tertentu, kita Retina ditetapkan oleh gaya yang dihasilkan oleh zat ini.
Vitreous humor adalah jaringan yang sangat rumit. Sebagai contoh, di dalamnya ribuan pembuluh darah dan serat yang membentang ke retina.

Berikut ini adalah masalah Mata yang tegas terkait dengan vitreous humor. Seperti disebutkan sebelumnya, retina kita tetap dengan gaya yang dihasilkan oleh jaringan ini. Apa yang akan terjadi jika gaya ini menjadi lebih lemah?
Ketika kita menjadi tua, vitreous akan menjadi lemah dan lebih lemah. Pada akhirnya, itu menyusut dan tidak dapat tegas tetap. Oleh karena itu, serat yang terhubung ke retina menjadi longgar dan vitreousfloaters mungkin muncul.

Dalam kita mata, ada bagian transparan yang sangat khusus, yang disebut Vitreous humor yang menentukan bentuk Mata kita. Bahan utama adalah cairan vitreous humor.

Dimana lokasi spesifik dari zat ini? Itu terletak antara lensa danretina kami. Untuk batas tertentu, kita Retina ditetapkan oleh gaya yang dihasilkan oleh zat ini.
Vitreous humor adalah jaringan yang sangat rumit. Sebagai contoh, di dalamnya ribuan pembuluh darah dan serat yang membentang ke retina.

Berikut ini adalah masalah Mata yang tegas terkait dengan vitreous humor. Seperti disebutkan sebelumnya, retina kita tetap dengan gaya yang dihasilkan oleh jaringan ini. Apa yang akan terjadi jika gaya ini menjadi lebih lemah?
Ketika kita menjadi tua, vitreous akan menjadi lemah dan lebih lemah. Pada akhirnya, itu menyusut dan tidak dapat tegas tetap. Oleh karena itu, serat yang terhubung ke retina menjadi longgar dan vitreousfloaters mungkin muncul.


mata dengan vitreous humor longgar, aqueous humor di menderita 'akan mengumpulkan lebih dan lebih, tetapi gel tetap tidak berubah. Proses ini telah menyebabkan ketidakseimbangan. Mengapa disebutfloaters vitreous? Harus ada sesuatu yang mengapung. Memang benar bahwa beberapa puing-puing dari retina tidak akan dihapuskan setelah mereka masuk ke bagian-vitreous humor transparan. Sekarang bahwa ada sesuatu yang mempengaruhi transparansi, mata akan melihat beberapa bayangan dan floater di dalamnya.
Ini masalah mata dapat menyebabkan beberapa ketidaknyamanan dan kejengkelan kepada penderita. Tapi ini normal dan tidak berbahaya, karena ini adalah fenomena alam. Kebanyakan orang tua menderita dari masalah ini.
Umumnya, vitreus floaters tidak dapat diobati, karena itu adalah masalah alam. Jika gejala yang terlalu serius, beberapa operasi mata adalah metode yang baik.
Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang pengetahuan Visi, kemudian merasa bebas untuk mengunjungi http://vision.firmoo.com/

Source: http://id.hicow.com/retina/mata/vitreous-humor-2634257.htm


KERATITIS mp


Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.1,2 Keratitis dapat disebabkan karena sindrom dry eye, blefaritis, konjungtivitis kronis, keracunan obat, sinar ultraviolet, atau dapat juga karena infeksi sekunder. Gejala klinisnya dapat berupa, mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan. Gejala lainnnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal dan mengeluarkan kotoran.1

PATOFISIOLOGI3 
Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapt di dalam stroma segera bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagi bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada perdangan yang hebat, toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descement dan endotel kornea. Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah kekeruhan di cairan COA, disusul dnegan terbentuknya hipopion. Bila peradangan tersu mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan yg dipermukaan penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan yang dlaam penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dpaat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan endophtalmitis, panophtalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.
KLASIFIKASI3

Keratitis dapat dibagi berdasarkan etiologi dan lokasi.


Berdasarkan Lokasi:
Keratitis Superficial :
1. Keratitis epitelial (tes fluoresin +)
a. Keratitis pungtata superficial
b. Keratitis Herpes simpleks
c. Keratitis Herpes zooster
2. Keratitis subepitelial (tes fuoresin -)
a. Keratitis numularis dari Dimmer
b. Keratitis disiform dari Westhoff
3. Keratitis stromal (tes fluoresin -)
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus

Keratitis Profunda :
1. Keratitis Interstitial
2. Keratitis Sklerotikans
3. Keratitis Disiformis


Keratitis Superfisial Nonulseratif :
1. Keratitis pungtata superfisial dari Fuchs
2. Keratitis numularis dari Dimmer
3. Keratitis disiformis dari Westhoff
4. Keratokonjungtivis epidemika

Keratitis Superfisial Ulseratif :
1. Keratitis pungtata ulseratifa
2. Keratitis flikten
3. Keratitis herpetika
4. Keratitis sika
5. Rosasea keratitis

Keratitis Profunda Nonulseratif :
1. Keratitis interstitial
2. Keratitis pustuliformis profunda
3. Keratitis disiformis
4. Keratitis sklerotikans


Keratitis Profunda Ulseratif :
1. Keratitis et lagoftalmus
2. Keratitis neuroparalitik
3. Dll. 

Menurut Etiologi :
1. Bakteri : Diplococcus pneumonia, Streptococcus hemolyticus, Pseudomonas aeroginosa, dll
2. Virus : Herpes simpleks, Herpes zooster, dll

3. Jamur : Candida, Aspergillus sp.
4. Alergi
5. Avitaminosis A
6. Kerusakan N.V


• Keratitis Pungtata Superfisial
Keratitis Pungtata Superfisialis adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada permukaan kornea mati. Mata biasanya terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis ini dapat bersifat ulseratif atau non ulseratif. 

• Keratitis Numularis
Keratitis ini didiuga oleh virus. Klinis tanda-tanda radang tidak jelas, di kornea terdapt infiltrat bulat-bulat subepitelial, dimana ditengahnya lebih jernih, disebut halo. Keratitis ini bila sembuh akan meninggalkan sikatrik yang ringan.

• Keratitis Disiformis
Keratitis ini awalnya banyak ditemukan pada petani di pulau jawa. Penyebabnya adalah virus yang berasal dari sayuran dan binatang. Di kornea tampak infiltrat bulat-bulat, yang ditengahnya lebih padat dari pada dipinggir. Umumnya menyarang usia 15-30 tahun.

• Keratokonjungtivis Flikten
Terutama didapatkan pada anak-anak dengan kebersihan yang buruk. Biasanya didaptkan pembesaran kelenjar leher dan tonsil. Dikornea flikten merupakan benjolan dengan diameter 1-3 mm berwarna abu-abu dan menonjol di atas permukaan kornea. 

• Keratokonjungtivis Sika
Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea an konjungtiva. Kekeringan ini dapat disebabkan kurnagnya komponen lemak, kurangnya air mata, kurangnya komponen musin, penguapan berlebihan dll. Penderita akan mengeluh mata gatal, fotofobia, berpasir, dll.

• Keratitis Rosasea
Keratitis yang didapat pada orang yang menderita acne rosasea, yaitu penyakit dengan kemerahan dikulit, disertai akne di atasnya. 

• Keratitis lagoftalmos
Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip. Umumnya bagian yang terkena adalah kornea bagian bawah

FAKTOR-FAKTOR RESIKO4
Faktor-faktor resiko yang memicu terjadinya keratitis termasuk segala lesi yang mengenai permukaan epitel dari kornea. Penggunaan dari kontak lensa meningkatkan resiko terjadinya keratitis, terutama jika cara penggunaannya tidak baik. Selain itu, penurunan kualitas dan atau kuantitas dari air mata juga dapat memicu timbulnya keratitis. Gangguan fungsi imun seperti pada penyakit AIDS atau penggunaan kortikosteroid dan kemoterapi juga dapat meningkatkan perkembangan munculnya keratitis. 
MANIFESTASI KLINIS4
Gejala dari keratitis biasanya mencakup nyeri, perih, dan penglihatan buram. Nyeri yang dirasakan dapat sedang hingga berat tergantung pada sebab dan luasnya inflamasi. Fotofobia juga dapat timbul. Pada temuan klinis dapat didapatkan mata merah, berair, dan terdapat kekeruhan pada kornea. 

DIAGNOSIS4
Diagnosis dari keratitis dapat didirikan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan menggunakan slit lamp untuk melihat dengan baik seluruh permukaan okular khususnya kornea secara detail. Pada kasus dimana diduga terjadi infeksi, kultur dapat diambil dari permukaan mata untuk menentukan spesifikasi patogen.

Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah :1
• Pemeriksaan tajam penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan.
• Uji dry eye
Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air mata ( tear film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time tujuannya yaitu untuk melihat fungsi fisiologik film air mata yang melindungi kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.
• Ofthalmoskop
Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pacat atropi, tanda lain juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar.
• Keratometri ( pegukuran kornea )
Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga dapat dilihat dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif dapat dilihat tear lake yang kering atau yang terisi air mata.
• Tonometri digital palpasi
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada cara ini diperlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan dapat dibandingkan dengan tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola mata bagian superior.1

PENGOBATAN
Penatalaksanaan keratitis bergantung pada etiologi yang mendasarinya. Bentuk sediaan yang diberikan dapat berupa tetes mata, pil, atau intravena. Semua benda asing yang ada pada kornea dan konjungtiva harus dihilangkan. Keratitits pungtata superficial penyembuhannya dapat berakhir dengan sempurna. Infeksi keratitis biasanya membutuhkan antibakteri, antifungal, atau terapi antiviral, apabila virus yang menjadi penyebabnya, keratitis tidak perlu mendapatkan pengobatan yang khusus karena biasanya dapat sembuh lebih kurang dalam 3 minggu. Pemberian cendo citrol tetes mata (6 x 1 tetes) yang diindikasikan kortikosteroid dapat menekan infeksi sekunder.5 Tetes mata steroid sering diberikan untuk mengurangi inflamasi dan scar yang mungkin timbul. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati karena beberapa infeksi dapat lebih buruk setelah penggunaan. Jika penyebab keratitis adalah mata kering, dapat diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar ultraviolet atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil. Jika penyebabnya adalah reaksi terhadap obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat dihentikan. Pada umumnya, pengguna kontak lensa akan diberi nasihat untuk tidak meneruskan kembali, walaupun tidak berakaitan dengan sebab timbulnya keratitis.

xerofthalmia


Xeroftalmia adalah kelainan mata akibat kekurangan vitamin A, terutama pada
anak Balita dan sering ditemukan pada penderita gizi buruk dan gizi kurang.
Penyebab
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:
- Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau
pro vitamin A untuk jangka waktu lama
- Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif
- Gangguan penyerapan vitamin A
- Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis / diare)
Gambaran Klinis
1. Gejala Reversible :
- buta senja (Hemeralopia)
- xerosis konjungtiva : yaitu konjungtiva yang kering, menebal,
berkeriput, dan keruh karena banyak bercak
pigmen
- xerosis kornea : konjungtiva kornea yang kering, menebal,
berkeriput dan keruh karena banyak bercak
pigmen
- bercak Bitot : benjolan berupa endapan kering dan berbusa
yang berwarna abu-keperakan berisi sisa-sisa
epitel konjungtiva yang rusak.
2. Gejala irreversible : ulserasi kornea dan sikatriks (scar)
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.
Penatalaksanaan
- Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A injeksi
- Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
- 1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
- Obati penyakit infeksi yang menyertai
- Obati kelainan mata, bila terjadi
- Perbaiki status gizi

TRACHOMA


Trachoma  adalah sebuah penyakit mata menular, dan penyebab utama kebutaan akibat infeksi di dunia. Secara global, 84 juta orang menderita infeksi aktif dan hampir 8 juta orang menjadi tunanetra sebagai akibat dari penyakit ini.
Penyebab
Trachoma disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dan disebarkan melalui kontak langsung dengan mata, hidung, dan tenggorokan yang terkena cairan (yang mengandung kuman ini) dari pengidap, atau kontak dengan benda mati, seperti handuk dan / atau kain lap, yang pernah kontak serupa dengan cairan ini. Lalat juga dapat menjadi rute transmisi. Jika tidak diobati, infeksi trachoma berulang dapat mengakibatkan  entropion yang merupakan bentuk kebutaan permanen dan disertai rasa nyeri jika kelopak mata berbalik ke dalam, karena ini menyebabkan bulu mata menggaruk kornea. Anak-anak yang paling rentan terhadap infeksi ini karena kecenderungan mereka untuk dengan mudah menjadi kotor, tetapi efek-efek pengihatan kabur dan gejala lebih parah lainnya sering tidak terasa sampai dewasa.
Tanda dan gejala
Bakteri ini memiliki masa inkubasi dari 5 sampai 12 hari setelah seseorang mengalami gejala konjungtivitis atau iritasi mirip dengan “mata merah muda.” Endemik kebutaan trakoma merupakan hasil dari beberapa episode reinfeksi yang menghasilkan peradangan terus-menerus pada konjungtiva. Tanpa reinfeksi, peradangan akan berangsur-angsur mereda.
Peradangan konjunctiva  disebut “trachoma aktif” dan biasanya terlihat pada anak-anak, terutama anak-anak pra sekolah (dasar). Hal ini ditandai dengan benjolan putih di permukaan bawah tutup mata atas (conjunctival folikel atau pusat-pusat germinal limfoid). Non-peradangan dan penebalan tertentu sering dikaitkan dengan papila. Folikel mungkin juga muncul di persimpangan kornea dan sclera (limbal folikel). Trakoma aktif akan sering menjengkelkan dan memiliki cairan berair. Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi dan menyebabkan discharge purulen.
Perubahan-perubahan struktural trakoma disebut sebagai “cicatricial trakoma”. Ini termasuk jaringan parut di tutup mata (konjungtiva tarsal) yang mengarah pada distorsi tutup mata dengan tekuk dari tutup (Tarsus) sehingga muncul bulu mata gosok pada mata (trichiasis). Bulu mata ini akan mengakibatkan kekeruhan kornea dan bekas luka dan kemudian mengarah ke kebutaan. Bekas luka linear hadir dalam sulkus subtarsalis disebut ‘garis Arlt’s’. Selain itu, pembuluh darah dan jaringan parut dapat menyerang bagian atas kornea (pannus).
Lebih lanjut gejala termasuk:
  1. Keluarnya cairan kotor dari mata – bukan air mata (emisi atau sekresi cairan yang mengandung lendir dan nanah dari mata)
  2. Pembengkakan kelopak mata
  3. Trichiasis (berbalik-nya bulu mata)
  4. Pembengkakan kelenjar getah bening di depan telinga
  5. Munculnya garis parutan pada kornea
  6. Komplikasi pada telinga, hidung dan tenggorokan.
Komplikasi utama atau yang paling penting adalah ulkus (luka/iritasi) pada kornea karena infeksi bakteri.
Pencegahan dan pengobatan/perawatan
Meskipun trakoma dihapuskan dari banyak negara maju dalam abad terakhir, penyakit ini bertahan di banyak bagian dunia berkembang khususnya di masyarakat tanpa akses yang memadai terhadap air dan sanitasi. Dalam banyak masyarakat ini, wanita tiga kali lebih besar daripada laki-laki akan dibutakan oleh penyakit ini,karena peran mereka sebagai pengasuh dalam keluarga.
Tanpa intervensi, trakoma keluarga tetap bertahan dalam lingkaran kemiskinan, karena penyakit dan efek jangka panjang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pencegahan yang penting meliputi:
  • Pembedahan: Bagi individu dengan trichiasis (berbaliknya arah lengkungan bulu mata ke arah dalam), sebuah prosedur rotasi bilamellar tarsal dibenarkan untuk mengarahkan bulu mata menjauh dari bola mata.
  • Terapi antibiotik: Pedoman WHO merekomendasikan jika terjadi endemik massa (sekitar 10 % dari populasi suatu daerah) maka perawatan/pengobatan dengan antibiotik tahunan harus terus dilakukan sampai prevalensi turun di bawah lima persen. Jika prevalensi lebih rendah dari itu maka pengobatan antibiotik harus berbasiskan keluarga.
  • Pilihan antibiotik: oral dosis tunggal 20 mg / kg atau topical tetracycline (satu persen salep mata dua kali sehari selama enam minggu). Azitromisin lebih disukai karena digunakan sebagai oral dosis tunggal.
  • Kebersihan: Anak-anak dengan hidung terlihat terlalu berair, okular discharge, atau lalat di wajah mereka paling tidak dua kali lebih mungkin untuk memiliki trakoma aktif dibanding anak-anak dengan wajah yang bersih. Intensif kesehatan berbasis masyarakat untuk mempromosikan program pendidikan muka-cuci dapat secara signifikan mengurangi prevalensi trachoma aktif.
  • Perbaikan lingkungan: Modifikasi dalam penggunaan air, kontrol lalat, penggunaan jamban, pendidikan kesehatan dan kedekatan dengan hewan peliharaan semuanya telah diusulkan untuk mengurangi penularan dari C. trachomatis. Perubahan-perubahan ini menimbulkan banyak tantangan untuk pelaksanaannya. Agaknya perubahan lingkungan ini pada akhirnya berdampak pada penularan infeksi okular melalui wajah kurangnya kebersihan.
Prognosis
Jika tidak diobati dengan baik dengan antibiotik oral, gejalanya dapat meningkat dan menyebabkan kebutaan, yang merupakan hasil dari ulkus (luka/iritasi) dan jaringan parut pada kornea. Operasi juga mungkin diperlukan untuk memperbaiki kelainan bentuk kelopak mata.